Laman

Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Saturday, October 6, 2018

MAU SUKSES ? YA PASRAH.....

MAU SUKSES ?
YA PASRAH.....

Oleh M. Musleh Adnan

Suatu hari pimpinan dari sebuah perusahaan ternama memanggil dua orang kepercayaannya, satu sama lain diberi tugas berbeda dengan gaji yang sama.

Bos perusahaan tersebut memberikan arahan kepada keduanya seraya berkata kepada A dan B ;

"Hari ini saya akan menentukan tugas kalian dan jumlah imbalan yang akan kalian terima, untuk kamu A saya pasrahkan mengurus administrasi keuangan di perusahaan ini dan untuk kamu B temani saya saja tidak usah kerja jangan menjauh dari saya tapi kamu tetap mendapat gaji yang sama seperti si A".

Kedua karyawan tersebut tidak ada yang berani membantahnya karena beresiko akan keluar surat peringatan (SP) malah akan berujung kepada pemecatan (resign).

Cerita ini sebenarnya hanyalah sebuah ilustrasi dari ungkapan hikmah Ibnu 'athaillah Al-Sakandary :

إرادَتُكَ التَّجْريدَ مَعَ إقامَةِ اللهِ إيّاكَ في الأسْبابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفيَّةِ، وإرادَتُكَ الأَسْبابَ مَعَ إقامَةِ اللهِ إيّاكَ فِي التَّجْريدِ انْحِطاطٌ عَنِ الهِمَّةِ العَلِيَّةِ

“Keinginanmu untuk tajrid (meninggalkan keinginan duniawi, termasuk mencari rezeki) padahal Allah telah menetapkan engkau pada asbab (usaha, dimana allah telah membekali manusia dengan sarana penghidupan), adalah termasuk dalam bisikan syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk melakukan asbab padahal Allah telah menempatkanmu pada kedudukan tajrid, adalah suatu kemerosotan dari himmah (tekad spiritual) yang luhur.”

Rizki itu memang misteri sulit ditebak tidak mengikuti alur logika kadang hadirnya tak terjamah oleh logika (abstrak) dan kadang terasa mustahil (absurd) tapi nyata adanya.

Lebih jauh lagi Ibnu 'athaillah menjelaskan korelasi yang sangat kuat antara ibadah dan rizki dalam kitabnya Al-Mukhtashar al-munir fii tadbiir alrizqi yang diringkas oleh syaikh walid murod, beliau banyak sekali menyitir ayat qur'an untuk menguatkan pendapatnya, misalnya :

(وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ)
[Surat Adh-Dhariyat 22]

"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu".

Menurut ibnu 'athaillah ayat di atas bisa melahirkan dua kesimpulan :

Pertama, seakan-akan Allah ingin menyinggung manusia yang ingin memperoleh rizki dengan mengandalkan sesama manusia "wahai para pencari rizki dari mahluk yang lemah di bumi ! Rizki kalian tidak pernah ada pada selainKu karena Akulah satu-satunya Sang Penguasa yang memiliki kekuatan dan kekayaan tak terbatas".

Dan ketika mendengar firman tersebut manusia akan berkata "Maha Suci Allah, kami telah salah mencari rizki di bumi karena ternyata rizki tersebut berada di atas langit yang untuk meraihnya harus memohon kepada Dzat Yang Maha Luhur".

(وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ)
[Surat Al-Hijr 21]

"Dan tidak ada sesuatu pun, melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya (kumpulan kekayaannya); Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu".

Kedua, bahwa asal rizki manusia semuanya bermula dan bersumber dari langit yaitu air hujan karena mayoritas mahluk yang hidup di planet bumi ini tercipta dari air.

Air menumbuhkan apa saja yang dibutuhkan oleh manusia, air jualah yang menjadikan manusia bisa beraktifitas normal karena Air merupakan komponen utama dalam sel tubuh, yakni sebanyak 60-70 persen. Beberapa organ tubuh pun mengandung air, seperti paru sebesar 90 persen, 82 persen pada darah, 80 persen padan kulit, 70 persen padan otak.

Sehebat-hebatnya manusia tidak akan bisa memenuhi kebutuhan air untuk dirinya apalagi untuk orang lain walaupun sudah ada teknologi yang digunakan untuk membuat hujan buatan  yang disebut Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

TMC digunakan untuk mempengaruhi proses yang terjadi di awan sebagai pembuat hujan. Sehingga mempercepat peluang terjadinya hujan, agar hujan buatan bisa terjadi kapan saja tanpa harus menunggu musim namun teknologi ini tak akan mampu menandingi keteraturan alam yang telah ditentukan Allah sejak azali.

Lebih spesifik lagi ibnu 'athaillah menyitir ayat yang sangat erat kaitannya dengan salah satu sebab lancarnya rizki, yakni :

(وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ)
[Surat Ta-Ha 132]

"Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa".

Ayat di atas oleh ibnu 'athaillah dipahami sebagai anjuran untuk manusia senantiasa melaksanakan perintah Allah tanpa reserve (syarat) dan Allah pasti akan menuangkan rizkiNya menurut kehendakNya, sebab ayat لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ  oleh beliau di jelaskan "bagaimana mungkin kalian melelahkan diri berburu rizki tanpa berteduh dan pasrah kepada Pemilik rizki ? ".

Berangkat dari sekelumit pemikiran ibnu 'athaillah ini tergambar jelas bahwa pasrah dengan cara mendekatkan diri kepada Allah akan menghasilkan rizki yang diharap dan rizki dapat menjadikan hati lapang karena kaya itu bukan sebab tumpukan materi tapi kaya adalah kaya hati (nrimo lan legowo).

Dimanakah letak usaha manusia bila dihubungkan dengan penjelasan ibnu 'athaillah di atas ?

Beliau tidak menafikan usaha mencari rizki karena usaha mencari rizki yang halal telah dicontohkan oleh penerima titah kenabian yaitu Nabi Muhammad tapi usaha manusia hanyalah sebuah ikhtiar sedangkan penentunya tetaplah Allah swt sehingga  ibnu 'athaillah memberikan solusi cerdas melanjutkannya dengan bingkai petuah berikutnya :

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبيرِ فَما قامَ بِهِ غَيرُكَ عَنْكَ لا تَقُمْ بهِ لِنَفْسِكَ

Istirahatkanlah dirimu dari melakukan tadbir (mengatur urusan duniawi) dengan susah payah. Karena, sesuatu yang telah diurus untukmu oleh selain dirimu (sudah diurus oleh Allah), tidak perlu engkau turut mengurusnya.

Friday, January 5, 2018

ORASI ILMIAH YANG HEROIK

ORASI ILMIAH YANG HEROIK
(Bagian-6)
Oleh | Abd Mannan Hasan*
Detail acara Majelis At-Taufiq pada prinsipnya sama dengan acara lain pada umumnya: pembukaan; alunan sholawat; sambutan; ceramah agama; doa. Dalam tulisan ini, saya fokus pada subtansi sambutan-sambutan acara Majelis At-Taufiq. Sejak diputuskan dalam rapat konsolidasi dan inisiasi internal di dhalem Majelis Keluarga Pondok Pesantren Miftahul Ulum Karangdurin, bahwa Ketua Dewan Pembina Majelis Pemuda Bersholawat At-Taufiq dilimpahkan pada KH Ach. Fauzan Zaini dan Ketua Umumnya diemban oleh KH. Moh. Khoiron Zaini.
Sejak itu pula, setiap evan pelaksanaan Majelis Pemuda Bersholawat At-Taufiq sambutan digawangi oleh Ketua Umum dan Ketua Dewan Pembina. Sedangkan alokasi waktu dan tertib sambutan bersifat situasional. Dalam sambutan-sambutan pengurus pusat, baik Ketua Dewan Pembina maupun Ketua Umum secara subtansial diarahkan pada generasi muda agar mereka siap dan memiliki optimisme yang memukau sekaligus sebagai otokritk terhadap dirinya sendiri. Terkadang, sambutan beliau-beliau itu, diselingi nuansa humor dan joke-joke segar agar para jamaah terasa asyik dan vitalitasnya kembali menggelora.
Sambutan Ketua Dewan Pembina disampakan selesai sholawat nabi dan biasanya mewakili panitia pelaksana sembari juga dikobarkan sugesti dan  motivasi agar even demi even At-Taufiq dapat mengetuk hati generasi muda.
Selain itu, Ketua Dewan Pembina sering mengutip kata-kata yang diucapkan Bung Karno “Beri aku seratus orang tua, akan ku cabut Semeru dari akarnya. Tapi beri aku seratus anak muda akan ku guncang dunia.” Sampai pada kalimat ini, sambutan beliau mendapakan aplaus yang gemuruh dari para jamaah. Motivasi demi motivasi yang beliau sampaikan sebagai wujud dari peran serta generasi muda agar kelak ia mempersiakan diri sebagai pemimpin masa depan bangsa dan negara. Beliau juga mengutip pepatah Arab yang sangat mashur, “Pemuda hari ini adalah generasi pemimpin depan.” Lagi-lagi sambutan ini mendapatkan aplaus.
Memang, sambutan Ketua Dewan Pembina lebih diprioritaskan pada kobaran motivasi dan pelecut emosi generasi muda agar mereka menyadari dengan serius betapa dirinya adalah pemimpin masa depan dan sebagai ujung tombak pembangunan mental, spiritual dan pengembangan intelektual generasi bangsa dan negara ini. Diakhir sambutan ketua Dewan Pembina mengucapkan terima kasih kepada panitia, para pengurus pusat, keamanan, muballigh dan aparatur pemerintah yang ikut berpartisipasi dalam mencapai kesuksesan acara. Seperti sering disampaikan,bawah peran serta semua pihak telah mendorong besar terselenggaranya Majelis At-taufiq ke pintu gerbang kesuksesan.   
 {*}. (Penulis Sekjen Majelis At-Taufiq)         


Wednesday, December 13, 2017

WANITA AT-TAUFIQ ZAMAN NOW

WANITA AT-TAUFIQ ZAMAN NOW: PENERUS SITI FATIMAH AZ-ZAHRAH

Setelah menimbang-nimbang dengan seksama dan menyerap aspirasi sebagian lapisan masyarkat akhirnya Pengurus Pusat MPB At-Taufiq membuka lampu hijau untuk jamaah wanita. Pertimbangan awal untuk tidak melibatkan jamaah wanita dalam even MPB At-Taufiq adalah untuk menghindari ikhtilath serta menghindari kesan dan asumsi-asumi. Tapi para pihak yang mendorong agar jamaah wanita juga diberikan porsi untuk hadir MPB At-Taufiq menjamin keamanan dan ketertiban acara. Memang, dalam rapat koordinasi antar koordes, jamaah wanita tidak anjurkan hadir. Namun diserahkan pada selera masing-masing personal. Tapi sejarah memang berpihak pada keadilan. Ternyata jumlah jamaah wanita terus berkembang pesat. Bahkan secara kalkulasi matematis, jumlah jamaah wanita sedanding dengan kaum Adam. Ini sungguh spektakuler. 
***

Tuesday, December 12, 2017

SATU MAJELIS SEJUTA SAUDARA

SATU MAJELIS SEJUTA SAUDARA
Oleh  Abd Mannan Hasan

Judul di atas sempat viral beberapa hari terakhir. Salah satu jamaah Majelis At-Taufiq menebar slogan tersebut untuk menginspirasi ribuan jamaah. Ia menyadari bahwa di Majelis At-Taufiq, selaian didoktrin dengan aneka ilmu, pendidikan, moral dan akhlak, mereka juga diikat dengan satu ukhwah islamiyah At-Taufiqiyah.

Kalimat At-Taufiq dihadirkan untuk menguatkan kesan bahwa di Majelis At-Taufiq telah terjalin ikatan ukhwah atau persadaraan yang kuat. Mereka hadir ke even Majelis At-Taufiq selain bertujuan untuk menimba ilmu dan mengaji pada masyayikh, secara otomatis mereka juga silaturaahim pada saudara sesama jamaah. 


Rupaya, Majelis At-Taufiq bagi jamaah, tidak saja memikat tapi sudah menyihir. Artinya sudah terpesona, terpikat dan siap mengobarkan jiwa raganya demi Majelis At-Taufiq. Mereka tersihir karena Majelis At-Taufiq adalah telah membentuk pribadi mereka lebih baik. Menuntun masa depan mereka menuju masa depan yang gemilang. Mereka juga sadar, berkat berdirinya Majelis At-Taufiq, mental dan harapan mereka untuk kembali kepangkuan ilahi menemukan panutan. 

Bisa saja, sebelum berdirinya Majelis At-Taufiq, mereka tak tahu kemana untuk mengeluh atas kompleksitas persoalan. 
Maka, satu majelis sejuta saudara adalah momentum besar untuk kembali merajut cinta dan kasih sayang antara sesama muslim, antar sesama bangsa,juga antar sesame jamaah Majelis At-Taufiq. 
Jika slogan Ketua Umum “Sekali At-Taufiq tetap At-Taufiq”, maka jargon jamaah adalah “Satu Majelis Sejuta Saudara”. Jargon-jargon tersebut, selain digunakan untuk memukau umat dan memotivasi jamaah, pada prinsipnya mereka juga menguatkan landasan untuk percaya pada apa yang ia yakini benar. 

Memang tidak mudah di era global seperti abad ini membangun peradaban anak muda. Mereka sedang labil dihempas teknologi dan masa-masa pubertas yang mencekam. Tapi berkat Majelis At-Taufiq mereka tidak saja cinta dan setia, tapi mereka siap  untuk menebarkan aroma kebaikan dan dakwah ke tengah-tengah umat.

Terjalinnya ukhwah atau persaudaraan At-Taufiqiyah yang belakangan cukup mengakar, mau tidak mau telah menjadi perekat sejati lahir batin antar jamaah. Ikatan ukhwah At-Taufiqiyah ini yang melahirkan kesan lain dibanding yang lain. Ikatan eksklusif. Eksklusif karena pada di Majelis At-Taufiq mereka benar-benar melepas ikatan, primordialisme, feodalisme, status sosial, dan simbol-simbol lain yang bisa saja mereka idolakan diluar Majelis At-Taufiq. 

Majelis At-Taufiq memang tidak menafikan status social dan simbol sosial yang mungkin dimiliki jamaah atau eksponennya. Bisa saja satu diantara sekian jamaah tersebut sebagai tokoh, jutawan, ilmuan, teknokrat, tokoh ormas dan sebagainya. Simbol-simbol tersebut, jelas merupakan keunikan tersendiri di kehidupan sosial dan memang demikian fitranya.

Yang ditegaskan di Majelis At-Taufiq adalah bahwa seluruh jamaah tersebut adalah saudara sepenuh hati. Tak perlu ada jarak antar satu dengan lainnya. Juga tak perlu rikuh membangun komunikasi dan solidaritas. Mereka adalah sama berada dalam bendera besar Majelis At-Taufiq kebanggaan kita bersama.      
     
Salam At-Taufiq!!!!  
Sampang, 12 Desember 2017  
*) Penulis Keluarga Majelis At-Taufiq

MAU SUKSES ? YA PASRAH.....

MAU SUKSES ? YA PASRAH..... Oleh M. Musleh Adnan Suatu hari pimpinan dari sebuah perusahaan ternama memanggil dua orang kepercayaannya,...